Penerapan invisible watermark pada konten yang dihasilkan Claude mulai memunculkan respons dari komunitas developer. Belum lama setelah Anthropic menerapkan teknologi tersebut, sejumlah developer di GitHub diketahui mulai mengembangkan berbagai utility yang diklaim dapat mengganggu pola watermark pada teks keluaran Claude.
Informasi mengenai perkembangan tersebut menjadi perhatian di tengah langkah Anthropic yang mulai menyematkan penanda tidak terlihat pada keluaran AI. Anthropic menjelaskan bahwa watermark teks dirancang agar tidak terlihat oleh pengguna dan tidak mengubah makna, kualitas, maupun keterbacaan hasil Claude. Teknologi tersebut bekerja pada tingkat model dan dirancang untuk tetap terbawa ketika teks disalin atau mengalami penyuntingan ringan.
Namun, di sisi lain, kemunculan berbagai eksperimen dari developer menunjukkan bahwa teknologi watermark AI berpotensi memasuki babak baru: pengembang sistem penanda berusaha membuatnya semakin kuat, sementara pihak lain mencoba memahami dan menguji batas ketahanannya.
Bukan Menghapus Watermark, tetapi Mengubah Pola Teks
Menurut informasi yang beredar dalam video Instagram yang menjadi referensi artikel ini, pendekatan yang dilakukan sejumlah developer bukan dengan menghapus watermark secara langsung.
Metode yang diuji justru memanfaatkan rewriting otomatis. Susunan kata dalam teks diubah sedemikian rupa dengan tujuan mengacaukan pola statistik yang diduga menjadi bagian dari mekanisme watermark.
Pendekatan semacam ini menarik karena watermark teks Claude tidak berupa tulisan, simbol, atau karakter khusus yang dapat dilihat pengguna. Anthropic menjelaskan bahwa watermark ditanamkan langsung ke dalam teks melalui pola yang tidak kasatmata. Laporan mengenai teknologi tersebut menyebutkan bahwa pemilihan kata dapat diarahkan mengikuti pola statistik tertentu tanpa membuat perubahan yang terlihat oleh pembaca.
Artinya, tantangan yang dihadapi bukan sekadar mencari dan menghapus sebuah “tanda” dari dokumen.
Sebaliknya, pihak yang ingin mengganggu watermark perlu mengubah karakteristik statistik dari teks tersebut.
Rewriting Otomatis Punya Risiko
Meski terdengar sederhana, melakukan rewriting terhadap sebuah tulisan bukan tanpa konsekuensi.
Sistem otomatis yang mengubah susunan kata dapat menghasilkan kalimat yang terasa kurang natural. Dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut juga berpotensi memengaruhi struktur tulisan, gaya bahasa, hingga makna yang ingin disampaikan penulis.
Hal ini menjadi salah satu tanda tanya dalam eksperimen terhadap watermark Claude.
Jika terlalu banyak bagian tulisan yang diubah, hasil akhirnya mungkin memang berbeda dari teks awal. Namun, perubahan tersebut sekaligus dapat mengurangi kualitas tulisan.
Anthropic sendiri menyatakan bahwa watermark dirancang untuk bertahan terhadap sejumlah tindakan umum seperti copy-paste dan penyuntingan ringan. Sebaliknya, perubahan atau penulisan ulang yang lebih besar dapat membuat watermark menjadi lebih sulit dipertahankan.
Mekanisme Watermark Belum Sepenuhnya Terbuka
Hal lain yang membuat perkembangan ini menarik adalah persoalan transparansi teknis.
Anthropic telah menjelaskan tujuan dan karakter umum sistem watermark, tetapi mekanisme teknis lengkap yang digunakan untuk menghasilkan dan mendeteksi tanda tersebut belum seluruhnya terbuka untuk publik.
Karena itu, berbagai eksperimen developer terhadap alat yang disebut dapat mengganggu watermark perlu dilihat secara hati-hati.
Kemampuan sebuah utility untuk menghasilkan teks yang berbeda belum otomatis membuktikan bahwa watermark Claude benar-benar berhasil dihilangkan. Diperlukan pengujian menggunakan mekanisme deteksi yang tepat untuk memastikan apakah penanda tersebut masih dapat dikenali atau tidak.
Anthropic juga menyatakan tengah mengembangkan kemampuan bagi pengguna dan pihak ketiga untuk mendeteksi watermark tersebut.
Berpotensi Menjadi Permainan “Kucing-kucingan”
Jika metode rewriting tertentu benar-benar terbukti mampu mengurangi kemungkinan watermark terdeteksi, perkembangan selanjutnya berpotensi menjadi semacam permainan “kucing-kucingan”.
Anthropic dapat memperbarui pola watermark agar lebih tahan terhadap manipulasi. Pada saat yang sama, developer dapat mencoba memahami perubahan tersebut dan mengembangkan pendekatan baru.
Siklus seperti ini bukan hal yang asing dalam teknologi keamanan. Ketika sebuah mekanisme deteksi diperkuat, pihak lain dapat mencoba mencari celah baru untuk menghindarinya.
Dalam konteks watermark AI, persaingan tersebut dapat terjadi antara algoritma penandaan, sistem deteksi, dan teknik modifikasi konten.
Mengapa Anthropic Menggunakan Watermark?
Penerapan watermark tersebut berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan untuk membedakan atau mengidentifikasi konten yang dibuat atau diproses menggunakan AI.
Langkah Anthropic juga berkaitan dengan penerapan ketentuan transparansi AI di Uni Eropa. Anthropic mulai menerapkan penanda pada model Claude yang diluncurkan pada atau setelah 2 Agustus 2026, kemudian memperluas penerapannya pada model yang lebih lama dalam masa transisi.
Untuk teks, penanda dibuat tidak terlihat oleh manusia. Sementara untuk sejumlah file yang didukung, Anthropic menggunakan metadata provenance yang ditandatangani secara digital dengan standar C2PA.
Tujuannya adalah memberikan cara bagi sistem atau pihak tertentu untuk mengetahui bahwa sebuah konten memiliki keterlibatan Claude.
Tidak Berarti Semua Konten AI Bisa Terdeteksi
Ada hal penting yang perlu digarisbawahi.
Watermark Claude bukanlah sistem universal untuk mendeteksi seluruh konten yang dibuat oleh kecerdasan buatan.
Penanda tersebut dirancang untuk menunjukkan keterlibatan Claude, bukan membuktikan bahwa sebuah teks pasti dibuat oleh AI secara umum. Bahkan, laporan mengenai sistem tersebut menyebutkan bahwa kemampuan watermark dapat memiliki keterbatasan pada jenis konten tertentu, seperti teks faktual atau kode yang membutuhkan pilihan kata dan struktur yang sangat presisi.
Karena itu, keberadaan atau ketiadaan watermark tidak seharusnya dipahami sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan apakah sebuah karya dibuat oleh manusia atau AI.
Developer Kini Menguji Batas Teknologi
Kemunculan utility di GitHub tidak serta-merta berarti teknologi watermark Anthropic telah berhasil ditembus.
Untuk saat ini, fenomena tersebut lebih tepat dilihat sebagai bagian dari eksperimen komunitas developer terhadap teknologi baru yang masih berkembang.
Anthropic sendiri masih terus mengembangkan sistem watermark dan perangkat pendeteksinya. Sementara itu, komunitas developer kemungkinan akan terus menguji bagaimana watermark bekerja, seberapa kuat ia bertahan terhadap perubahan teks, dan sejauh mana metode modifikasi dapat memengaruhi kemampuan pendeteksian.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang teknologi AI kini tidak hanya berlangsung pada kemampuan menghasilkan teks, gambar, atau kode, tetapi juga pada bagaimana asal-usul konten dapat ditandai dan diverifikasi.
Jika watermark semakin kuat, konten AI akan semakin mudah ditelusuri. Namun jika teknik untuk mengacaukannya juga berkembang, Anthropic dan perusahaan AI lainnya harus terus memperbarui pendekatan mereka.
Dengan demikian, teknologi watermark AI kemungkinan masih akan menjadi topik yang menarik untuk diikuti dalam perkembangan industri kecerdasan buatan ke depan.
Informasi :
https://www.instagram.com/reel/DcBOoepiEUZ
https://www.theverge.com/ai-artificial-intelligence/977823/anthropic-claude-ai-watermarks-c2pa-text-images
https://www.businessinsider.com/anthropic-reveals-more-about-ai-watermarking-plans-amid-eu-regulations-2026-8